You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Kalurahan Kedungsari
Kalurahan Kedungsari

Kap. Pengasih, Kab. Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta

Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kalurahan Kedungsari

Inovasi Hijau untuk Ketahanan Pangan : Edukasi dan Pelatihan Biopestisida Nabati bagi Petani Lokal

Redaksi SID 25 Juli 2025 Dibaca 47 Kali


Serangan hama menjadi salah satu tantangan terbesar bagi petani dalam menjaga produktivitas lahan pertanian. Hama seperti wereng batang coklat, penggerek batang padi, dan kutu daun dapat menimbulkan kerusakan signifikan pada tanaman, yang berujung pada penurunan hasil panen hingga puluhan persen. Ketergantungan pada pestisida kimia selama ini memang efektif, namun penggunaan yang berlebihan membawa risiko resistensi hama, pencemaran lingkungan, dan berdampak negatif pada kesehatan manusia. Sebagai solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan, biopestisida nabati hadir sebagai inovasi pengendalian hama yang menggunakan bahan alami. Biopestisida nabati tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan keamanan pangan. 

Biopestisida nabati adalah pestisida alami yang berasal dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita seperti daun, kulit, biji, atau akar tanaman. Berbeda dengan pestisida kimia, biopestisida nabati bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan atau membunuh hama secara alami tanpa meninggalkan residu berbahaya pada tanaman maupun lingkungan. Biopestisida nabati memiliki beberapa kelebihan seperti bahan bakunya yang mudah didapat di sekitar, mudah dibuat, dan lebih aman bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Beberapa jenis biopestisida nabati yang banyak dikenal antara lain ekstrak daun mimba, serai, pepaya, sirsak, tembakau, bawang putih, hingga ekstrak cabe rawit. Jenis-jenis ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai serangga pengganggu pada tanaman. Dengan memanfaatkan biopestisida nabati, petani dapat menjaga ekosistem pertanian tetap seimbang sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.


Pada Sabtu (19/07/25), mahasiswa KKN-PPM UGM YO-062 yang berlokasi di Padukuhan Cumethuk memperkenalkan biopestisida nabati kepada kelompok tani Maju Lancar. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang manfaat biopestisida sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan, sekaligus melatih anggota kelompok tani dalam proses pembuatan dan penggunaan biopestisida nabati secara mandiri. Melalui pendekatan ini, diharapkan petani dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia serta meningkatkan produktivitas tanaman secara sehat dan berkelanjutan. 

Komposisi dan Fungsi Bahan

Biopestisida ini dibuat dari lima bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar kita. Daun pepaya mengandung senyawa papain dan karpain yang berfungsi sebagai racun perut serta penghambat nafsu makan hama. Daun sirsak kaya akan acetogenin yang mampu mengganggu sistem saraf serangga, sehingga efektif untuk mengusir hama. Serai mengandung sitronelal dan geraniol yang berfungsi sebagai pengusir serangga (repelen) dan racun kontak. Bawang putih mengandung allicin yang memiliki sifat antibakteri dan antijamur, serta bisa bertindak sebagai racun sistemik pada hama. Cabai rawit mengandung capsaicin, senyawa aktif yang bekerja menyerang saraf dan mengganggu sistem makan hama, membuat mereka enggan mendekat.

Cara Pembuatan (untuk 1 Liter)

Untuk membuat 1 liter larutan biopestisida, siapkan 10 lembar daun pepaya, 10 lembar daun sirsak, 5 batang serai, 5 siung bawang putih, dan 5 buah cabai rawit. Semua bahan ini dihaluskan, bisa menggunakan blender atau diulek secara manual. Setelah halus, campurkan dengan 1 liter air bersih dan diamkan selama 24 jam agar zat aktif keluar dan tercampur merata. Setelah proses perendaman, larutan disaring, kemudian tambahkan 1 sendok makan sabun cair (sebagai surfaktan agar larutan menempel di daun) dan 1 sendok makan minyak goreng atau minyak jelantah (sebagai perekat). Larutan ini siap digunakan dan tidak perlu diencerkan lagi sebelum penyemprotan.

Cara Penggunaan dan Manfaat

Biopestisida ini sebaiknya disemprotkan pada pagi atau sore hari agar tidak cepat menguap dan tetap efektif melindungi tanaman. Fokuskan penyemprotan pada bagian bawah daun, karena di situlah hama biasanya bersembunyi dan bertelur. Untuk perlindungan maksimal, penyemprotan dapat dilakukan seminggu sekali secara rutin. Larutan ini aman digunakan untuk berbagai jenis tanaman seperti padi, cabai, tomat, sayuran daun, hingga tanaman toga. Manfaatnya mencakup pengendalian berbagai jenis hama seperti ulat, wereng, semut, serta jamur penyebab penyakit tanaman.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2024 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp2,214,280,741 Rp2,240,959,255
98.81%
Belanja
Rp2,206,302,095 Rp2,373,514,264
92.96%
Pembiayaan
Rp172,555,009 Rp172,555,009
100%

APBDes 2024 Pendapatan

Hasil Usaha Desa
Rp21,503,497 Rp18,211,000
118.08%
Hasil Aset Desa
Rp9,468,750 Rp9,900,000
95.64%
Lain-lain Pendapatan Asli Desa
Rp96,702,000 Rp100,238,692
96.47%
Dana Desa
Rp1,160,027,000 Rp1,160,027,000
100%
Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi
Rp113,097,081 Rp140,095,460
80.73%
Alokasi Dana Desa
Rp790,302,040 Rp790,302,040
100%
Hibah Dan Sumbangan Dari Pihak Ketiga
Rp0 Rp100,000
0%
Bunga Bank
Rp3,895,310 Rp3,000,000
129.84%
Lain-lain Pendapatan Desa Yang Sah
Rp19,285,063 Rp19,085,063
101.05%

APBDes 2024 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp1,099,586,387 Rp1,184,278,164
92.85%
Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa
Rp685,362,208 Rp713,610,750
96.04%
Bidang Pembinaan Kemasyarakatan
Rp114,113,000 Rp141,877,300
80.43%
Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rp234,190,500 Rp251,302,850
93.19%
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa
Rp73,050,000 Rp82,445,200
88.6%