Serangan hama menjadi salah satu tantangan terbesar bagi petani dalam menjaga produktivitas lahan pertanian. Hama seperti wereng batang coklat, penggerek batang padi, dan kutu daun dapat menimbulkan kerusakan signifikan pada tanaman, yang berujung pada penurunan hasil panen hingga puluhan persen. Ketergantungan pada pestisida kimia selama ini memang efektif, namun penggunaan yang berlebihan membawa risiko resistensi hama, pencemaran lingkungan, dan berdampak negatif pada kesehatan manusia. Sebagai solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan, biopestisida nabati hadir sebagai inovasi pengendalian hama yang menggunakan bahan alami. Biopestisida nabati tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan keamanan pangan.
Biopestisida nabati adalah pestisida alami yang berasal dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita seperti daun, kulit, biji, atau akar tanaman. Berbeda dengan pestisida kimia, biopestisida nabati bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan atau membunuh hama secara alami tanpa meninggalkan residu berbahaya pada tanaman maupun lingkungan. Biopestisida nabati memiliki beberapa kelebihan seperti bahan bakunya yang mudah didapat di sekitar, mudah dibuat, dan lebih aman bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Beberapa jenis biopestisida nabati yang banyak dikenal antara lain ekstrak daun mimba, serai, pepaya, sirsak, tembakau, bawang putih, hingga ekstrak cabe rawit. Jenis-jenis ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai serangga pengganggu pada tanaman. Dengan memanfaatkan biopestisida nabati, petani dapat menjaga ekosistem pertanian tetap seimbang sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.
Pada Sabtu (19/07/25), mahasiswa KKN-PPM UGM YO-062 yang berlokasi di Padukuhan Cumethuk memperkenalkan biopestisida nabati kepada kelompok tani Maju Lancar. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang manfaat biopestisida sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan, sekaligus melatih anggota kelompok tani dalam proses pembuatan dan penggunaan biopestisida nabati secara mandiri. Melalui pendekatan ini, diharapkan petani dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia serta meningkatkan produktivitas tanaman secara sehat dan berkelanjutan.
Komposisi dan Fungsi Bahan
Biopestisida ini dibuat dari lima bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar kita. Daun pepaya mengandung senyawa papain dan karpain yang berfungsi sebagai racun perut serta penghambat nafsu makan hama. Daun sirsak kaya akan acetogenin yang mampu mengganggu sistem saraf serangga, sehingga efektif untuk mengusir hama. Serai mengandung sitronelal dan geraniol yang berfungsi sebagai pengusir serangga (repelen) dan racun kontak. Bawang putih mengandung allicin yang memiliki sifat antibakteri dan antijamur, serta bisa bertindak sebagai racun sistemik pada hama. Cabai rawit mengandung capsaicin, senyawa aktif yang bekerja menyerang saraf dan mengganggu sistem makan hama, membuat mereka enggan mendekat.
Cara Pembuatan (untuk 1 Liter)
Untuk membuat 1 liter larutan biopestisida, siapkan 10 lembar daun pepaya, 10 lembar daun sirsak, 5 batang serai, 5 siung bawang putih, dan 5 buah cabai rawit. Semua bahan ini dihaluskan, bisa menggunakan blender atau diulek secara manual. Setelah halus, campurkan dengan 1 liter air bersih dan diamkan selama 24 jam agar zat aktif keluar dan tercampur merata. Setelah proses perendaman, larutan disaring, kemudian tambahkan 1 sendok makan sabun cair (sebagai surfaktan agar larutan menempel di daun) dan 1 sendok makan minyak goreng atau minyak jelantah (sebagai perekat). Larutan ini siap digunakan dan tidak perlu diencerkan lagi sebelum penyemprotan.
Cara Penggunaan dan Manfaat
Biopestisida ini sebaiknya disemprotkan pada pagi atau sore hari agar tidak cepat menguap dan tetap efektif melindungi tanaman. Fokuskan penyemprotan pada bagian bawah daun, karena di situlah hama biasanya bersembunyi dan bertelur. Untuk perlindungan maksimal, penyemprotan dapat dilakukan seminggu sekali secara rutin. Larutan ini aman digunakan untuk berbagai jenis tanaman seperti padi, cabai, tomat, sayuran daun, hingga tanaman toga. Manfaatnya mencakup pengendalian berbagai jenis hama seperti ulat, wereng, semut, serta jamur penyebab penyakit tanaman.