You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Kalurahan Kedungsari
Kalurahan Kedungsari

Kap. Pengasih, Kab. Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta

Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kalurahan Kedungsari

Inovasi Hijau untuk Ketahanan Pangan : Edukasi dan Pelatihan Biopestisida Nabati bagi Petani Lokal

Redaksi SID 25 Juli 2025 Dibaca 176 Kali


Serangan hama menjadi salah satu tantangan terbesar bagi petani dalam menjaga produktivitas lahan pertanian. Hama seperti wereng batang coklat, penggerek batang padi, dan kutu daun dapat menimbulkan kerusakan signifikan pada tanaman, yang berujung pada penurunan hasil panen hingga puluhan persen. Ketergantungan pada pestisida kimia selama ini memang efektif, namun penggunaan yang berlebihan membawa risiko resistensi hama, pencemaran lingkungan, dan berdampak negatif pada kesehatan manusia. Sebagai solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan, biopestisida nabati hadir sebagai inovasi pengendalian hama yang menggunakan bahan alami. Biopestisida nabati tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan keamanan pangan. 

Biopestisida nabati adalah pestisida alami yang berasal dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita seperti daun, kulit, biji, atau akar tanaman. Berbeda dengan pestisida kimia, biopestisida nabati bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan atau membunuh hama secara alami tanpa meninggalkan residu berbahaya pada tanaman maupun lingkungan. Biopestisida nabati memiliki beberapa kelebihan seperti bahan bakunya yang mudah didapat di sekitar, mudah dibuat, dan lebih aman bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Beberapa jenis biopestisida nabati yang banyak dikenal antara lain ekstrak daun mimba, serai, pepaya, sirsak, tembakau, bawang putih, hingga ekstrak cabe rawit. Jenis-jenis ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai serangga pengganggu pada tanaman. Dengan memanfaatkan biopestisida nabati, petani dapat menjaga ekosistem pertanian tetap seimbang sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.


Pada Sabtu (19/07/25), mahasiswa KKN-PPM UGM YO-062 yang berlokasi di Padukuhan Cumethuk memperkenalkan biopestisida nabati kepada kelompok tani Maju Lancar. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang manfaat biopestisida sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan, sekaligus melatih anggota kelompok tani dalam proses pembuatan dan penggunaan biopestisida nabati secara mandiri. Melalui pendekatan ini, diharapkan petani dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia serta meningkatkan produktivitas tanaman secara sehat dan berkelanjutan. 

Komposisi dan Fungsi Bahan

Biopestisida ini dibuat dari lima bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar kita. Daun pepaya mengandung senyawa papain dan karpain yang berfungsi sebagai racun perut serta penghambat nafsu makan hama. Daun sirsak kaya akan acetogenin yang mampu mengganggu sistem saraf serangga, sehingga efektif untuk mengusir hama. Serai mengandung sitronelal dan geraniol yang berfungsi sebagai pengusir serangga (repelen) dan racun kontak. Bawang putih mengandung allicin yang memiliki sifat antibakteri dan antijamur, serta bisa bertindak sebagai racun sistemik pada hama. Cabai rawit mengandung capsaicin, senyawa aktif yang bekerja menyerang saraf dan mengganggu sistem makan hama, membuat mereka enggan mendekat.

Cara Pembuatan (untuk 1 Liter)

Untuk membuat 1 liter larutan biopestisida, siapkan 10 lembar daun pepaya, 10 lembar daun sirsak, 5 batang serai, 5 siung bawang putih, dan 5 buah cabai rawit. Semua bahan ini dihaluskan, bisa menggunakan blender atau diulek secara manual. Setelah halus, campurkan dengan 1 liter air bersih dan diamkan selama 24 jam agar zat aktif keluar dan tercampur merata. Setelah proses perendaman, larutan disaring, kemudian tambahkan 1 sendok makan sabun cair (sebagai surfaktan agar larutan menempel di daun) dan 1 sendok makan minyak goreng atau minyak jelantah (sebagai perekat). Larutan ini siap digunakan dan tidak perlu diencerkan lagi sebelum penyemprotan.

Cara Penggunaan dan Manfaat

Biopestisida ini sebaiknya disemprotkan pada pagi atau sore hari agar tidak cepat menguap dan tetap efektif melindungi tanaman. Fokuskan penyemprotan pada bagian bawah daun, karena di situlah hama biasanya bersembunyi dan bertelur. Untuk perlindungan maksimal, penyemprotan dapat dilakukan seminggu sekali secara rutin. Larutan ini aman digunakan untuk berbagai jenis tanaman seperti padi, cabai, tomat, sayuran daun, hingga tanaman toga. Manfaatnya mencakup pengendalian berbagai jenis hama seperti ulat, wereng, semut, serta jamur penyebab penyakit tanaman.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2025 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp2,768,147,473 Rp2,660,852,860
104.03%
Belanja
Rp2,428,042,485 Rp2,678,708,910
90.64%
Pembiayaan
Rp367,172,746 Rp367,172,746
100%

APBDes 2025 Pendapatan

Hasil Usaha Desa
Rp166,921,472 Rp166,921,472
100%
Hasil Aset Desa
Rp14,562,200 Rp9,987,500
145.8%
Lain-lain Pendapatan Asli Desa
Rp234,895,250 Rp95,970,000
244.76%
Dana Desa
Rp1,073,618,000 Rp1,073,618,000
100%
Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi
Rp155,967,855 Rp193,348,204
80.67%
Alokasi Dana Desa
Rp811,882,684 Rp811,882,684
100%
Bantuan Keuangan Provinsi
Rp295,000,000 Rp295,000,000
100%
Penerimaan Dari Hasil Kerjasama Antar Desa
Rp9,500,000 Rp9,500,000
100%
Hibah Dan Sumbangan Dari Pihak Ketiga
Rp0 Rp200,000
0%
Koreksi Kesalahan Belanja Tahun-tahun Sebelumnya
Rp525,000 Rp525,000
100%
Bunga Bank
Rp4,775,012 Rp3,600,000
132.64%
Lain-lain Pendapatan Desa Yang Sah
Rp500,000 Rp300,000
166.67%

APBDes 2025 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp1,259,829,303 Rp1,326,705,696
94.96%
Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa
Rp869,770,907 Rp893,934,700
97.3%
Bidang Pembinaan Kemasyarakatan
Rp246,061,400 Rp374,746,508
65.66%
Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rp19,130,875 Rp39,790,256
48.08%
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa
Rp33,250,000 Rp43,531,750
76.38%